Selasa, 17 April 2018


Review Film

The post : mengunggap kebenaran

Film yang di mainkan oleh Meryl Streep, Tom Hanks dan actor lainnya ini telah mengisahkan sebuah cerita tentang rahasia yang disembunyikan oleh Negara kemudian rahasia tersebut telah bongkar oleh 2 media surat kabar  yang terkenal saat itu.

Rahasia itu bermula pada saat seorang analis militer asal Amerika, Daniel Ellsberg (Matthew Rhys), menyadari bahwa keputusan yang telah di tetapkan oleh pemerintah Amerika Serikat ternyata banyak merugikan dan bahkan telah  menyia-nyiakan tentaranya di perang Vietnam, kemudian pemerintah  mengambil tindakan dengan menyalin dokumen rahasia yang menjadi makalah Pentagon pada ada saat itu.

Dokumen ini terdiri dari 47 volume yang disusun dalam  rentang tahun 1967 -- 1969,  mencakup 3.000 halaman narasi dan 4.000  halaman dokumen pendukung. Analis militer Daniel Ellsberg kemudian beropini lain bahwa seharusnya seluruh informasi hasil penelitian tim-nya diketahui  publik.

Bagaimana rahasia itu bisa terbongkar ?

Pada masa itu di Amerika Serikat memiliki 2 media berupa surat kabar, New York Times dan Washington Post. Dari kedua media tersebut Daniel Ellsberg kemudian mengkopi dokumen tersebut dan memberikannya kepada Neil Shenaan, salah seorang wartawan The New York Times. Koran tersebut adalah yang pertama kali mempublikasikan salah satu isi Pentagon Papers dan menyita perhatian publik, termasuk Gedung Putih, berbeda dengan Washington post.

Pemilik Washington Post, Kay Graham (Meryl Streep), masih menyesuaikan diri dengan mengambil alih bisnis almarhum suaminya dan mempersiapkan surat kabarnya untuk go public. Sementara sang editor Ben Bradlee (Tom Hanks) menemukan New York Times telah mengundang pusat perhatian dengan mengekspos dokumen tersebut.

Gedung Putih pun langsung memberikan peringatan pertama kepada New York Times dan melarang mempublikasikan lebih jauh isi Pentagon Papers dengan alasan dapat mengakibatkan kehancuran negara, tetapi New York Times menolak, gugatan perdata pun dilayangkan pemerintah AS sehingga New York Times diputuskan tidak boleh menerbitkan kembali Pentagon Papers. 

Dengan situasi yang seperti itu tidak membuat Washington post menjadi takut melainkan tetap Bertekad untuk bersaing, kemudian salah seorang reporter Washington Post pun mencari dan menemukan Daniel Ellsberg dengan tujuan untuk mendapatkan salinan lengkap dari makalah tersebut.

Namun, rencana Washington Post untuk mempublikasikan makalah Pentagon terancam oleh perintah penahanan Federal yang bisa membuat mereka semua didakwa karena melakukan kontroversi.  Saat itulah  Kay  Graham dihadapkan pada dilema berat oleh dewan direksinya. Sebagian  mendorongnya (terutama Ben Bradlee) untuk menerbitkan artikel tersebut dan sebagian menentangnya karena akan berpotensi menyebabkan para investor  akan menarik sahamnya dari The Washington Post.

Disatu sisi,  Kay Graham ingin tetap berpegang pada prinsip kebebasan pers sementara  disisi lain ia juga tidak ingin kehilangan perusahaannya, karena  kemungkinan terburuknya adalah The Washington Post tutup dan ia dipenjara karena melawan pemerintah. Tetapi hal itu justru membuat kay berpegang teguh pada keputusannya untuk tetap menerbitkan berita tersebut, dan menerima semua apa pun resikonya.

Lagi-lagi berita itu menarik perhatian masyarakat terutama reaksi dan peringatan yang diberikan pada gedung putih. Saat itulah Washington post di hadapkan pada ancaman bahwa mereka dilarang keras masuk ke Gedung Putih lagi dan dituntut di pengadilan. Kasus New York Times dan Washington Post melawan pemerintah menjadi kasus yang paling terkenal.

Namun tak disangka, ternyata Pentagon Papers juga telah tersebar ke surat kabar lainnya mulai dari Times, Boston Globe dan lainnya. Dan  ketika serombongan perusahaan media ini bersatu mengajukan banding ke  Mahkamah Agung, kasus pun dimenangkan pihak pers karena mereka berhasil  membuktikan bahwa dengan diterbitkannya Pentagon Papers ini,  tidak akan menimbulkan hal-hal seperti yang telah dikhawatirkan oleh  pemerintah. Kasus ini pun melahirkan amandemen pertama pada  undang-undang yang menjamin kebebasan pers.


                                           Mervo Dibanjiri Pujian Oleh Para Penggemarnya ”Sitaro …. Banuai kukendage……… “Sitar...